Pilihan bahasa

Benarkah menjadi cermin diri?

Ada yang aneh ketika tadi seorang teman memberi komentar soal bahasa yang aku pake di Homesite-ku. Katanya bahasa yg aku pake di sana terlalu resmi, "ngga mencerminkan character seorang rido".

Pertamanya aku cuman menanggapi enteng dengan mengatakan site di sana memang aku bikin untuk formalitas, kayak orang lagi kenalan gitulah. Tapi aku terus kepikiran soal omongannya, apa bener penggunaan bahasa bisa mencerminkan diri seseorang?

Emang sich, aku juga sempet mikir ke situ. Pemilihan bahasa yg digunakan sesorang ketika menulis tentunya dapat mencitrakan character sang penulis. Setidaknya itu yg aku temui ketika membaca tulisan teman² di blog mereka. Semisal orang yang suka guyonan tentu lebih suka menggunakan bahasa² yang lucu atau mereka yang suka sastra menggunakan bahasa lebih indah dengan memakai rima. Tapi juga ga sedikit dari mereka yg mengabaikan penggunaan bahasa, pokoknya nulis aja ga perlu mikirin pembentukan character. Disadari atau tidak, pemilihan bahasa yang digunakan penulis nantinya bisa mempengaruhi pembaca. Bener ga se?

Mungkin ada yg ga pecaya, tapi ternyata tulisan bisa nunjukin character sesorang. Ya tapi balik lagi ke prespektif pembaca sich, kadang pembaca mengapresisai tulisan dengan pemikiran subyektif mereka aja. Trus membangun character sang penulis dengan imajinasi mreka sndiri. Perkara image yg dibentuk pembaca beda ma character asli sang penulis ntu kan urusan laen. Makane kadang seorang pembaca bisa sangat menyukai sbuah tulisan sementara yg laen sangat membencinya...

Kalo menuruku sech bodok amat pembaca mo ngasih image ke aku, selama itu ga nggangu tentu kafilah akan berlalu.. cieeee...

facebook-ku

mainan lama yg baru aja dimainin... ;D

Mungkin rada telat kali ea nulis soal facebook, meski udah lama register account di facebook tapi baru kali ini bener² ngerasain kecanduan site yang satu ini.

Hal itu dikarenakan application di dalamnya yang baru aja tau kalo emang bikin nagih maenan facebook. Selain comment sebagai tempat nge-junk, ada 'Mafia Wars' yg aku mainin sama bazz and rian kalo lagi ngumpul di transnet. Kalo yg baru² aja kupake ntu ada application 'iDescribe' buat ngasih 5 kata sebagai cerminan characteristic temenku, ato 'Send Coffee' kalo mo berbagai kopi. Selain application itu, sebenere masih ada beberapa yang ga munkin aku ceritain smuanya. Dan mungkin bakalan lebih banyak nyobain application yang laen. Hehe...

Perkara ada omongan yang bilang maen facebook bisa kecanduan pun rasane aku ga ngalamin yang kek gitu, karna smua aktifitas ga terganggu hanya gara² satu account di facebook. Malah dengan satu account itu, aku bisa gabungin temen²ku dari berbagai account yang aku punya.

Meski ketemu lagi ama orang² yang sama dari blogspot, friendster, multiply, dan transnetter, tapi aku seneng karna smua temen²ku bisa kumpul jadi satu di situ.. Temen² diskusi, nge-junk, becanda, berceloteh tentang banyak hal. Temen² yang sekirane bisa lebih deket meski ga pernah ketemu sekalipun. Temen yang, mmm...

So, thanks buat mereka yang ngasih keceriaan tiap malamku. Ceiee.. lebay lagi. Well, buat temen² nyang belom add, silahkan klik di sini dan kita teruskan 'bermain' facebook... ;D

stagnant

Sedang tidak baik² saja....

Aku sedang berusaha menulis dalam hari² terakhir ini. Entahlah, ada satu hal yang mungkin sedang buntu di kepalaku. tapi betapa semua ini ingin kukeluarkan. Setelah yakin oleh ucapan seorang teman, bahwa menulis seperti biasa akan membuang semua sesak dalam otak, aku baru membebaskan jemari menari merangkai kata untuk mengeluarkannya. Tentang sesuatu yang ternyata baru aku sadari akhir² ini.

Aku merasa tak punya apa² dalam hari²ku biasanya, smua berjalan stagnant. Siang bangun trus makan, dilanjutin cangkruk ato maen game. Sore kerja sampe pagi, trus nonton berita pagi bentar sampe ketiduran. Siang bangung trus makan, gitu terus sampe beberapa hari ini. Kerja jadi ga semangat and isinya cuman baca² manga sampe bosen, ato download and upload, file² yang ga penting yang mengalir dari rapidshare ke 4shared-ku. Sampe saat inipun proses itu masih berlangsung. Aku tak tahu aku harus menulis apa pagi ini.

Aku kadang iri pada mereka yang mempunyai kehidupan yang menyenangkan, memiliki rutinitas berbeda tiap harinya. Bertemu orang² baru dan belajar bersosialisasi [aku lemah dalam hal ini] dalam dunia nyata, ato kegiatan² baru sebagai pembelajaran menyerap ilmu tuhan yang terhampar di jagat raya. Betapa aku juga ingin menikmatinya. Tapi mau gimana lagi, hari²ku memang harus seperti ini.

Haha, kenapa aku jadi mengeluh begini?

Ah, mungkin ini hanya rasa bosan yang kebetulan hinggap di otakku. Bosan setelah hampir satu bulan mengisi liburan dengan hal yang sama tiap harinya. Mungkin aku butuh refreshing sebentar saja. Keluar nonton? tapi elly masih dalam tahap penyembuhan. Kayaknya, ga mungkin seru kalo nonton ga bareng dia. Pulang ke rumah? Tapi ga ada budget meski ibuk bilang udah kangen pengen ketemu ragilnya. Ngg, nulis lagi? Tapi mo cerita apa?

Ach, suck....

Saykoji - Online

Barusan aja nge-check report, ga tau kenapa ada lagu ini di playlist winamp. Pertamanya sech ga sebegitu merhati-in liriknya, tapi waktu nyampe ditengah² ntu yang bener² ngakak...

Setan ni saykoji nampar telinga ga nanggung² karna hampir smua klakuan bejatku ada di lagu ini. Tapi, salut jg ma rapper yg satu ini. Setidaknya, dia ga ikutan gaya rapper luar yg sok ngejelek²in pernyanyi laen tapi dianya sndiri minim karya.

Nngg,, ga tau juga sech ni lagu jadul ato emang lagu baru. Tapi yang jelas ni lagu emang baru aja kudengerin. Well, semoga ga ikutan di tampar ma saykoji... ;D


reff:
siang malam ku selalu
menatap layar terpaku
untuk on line on line
on line on line

verse 1:
tidur telat bangun pagi pagi
nyalain komputer online lagi
bukan mau ngetik kerjaan
e-mail tugas diserahkan

tapi malah buka facebook
padahal face masih ngantuk
beler kayak orang mabuk
pala naik turun ngangguk-ngangguk

sambil ngedownload empitri
colok i pod usb kiri
ngecekin postingan forum
apa ada balesannye? belum

biar belum sikat gigi belum mandi
tapi kalo belum on line paling anti
liat friendster, myspace, youtube
me and him, everybody, you too

siang malam ku selalu
menatap layar terpaku
untuk on line on line
on line on line
jari dan keyboard beradu
pasang earphone dengar lagu
aku on line online
on line on line

verse 2:
nah udah mandi siap berangkat
langsung cabut takut terlambat
tak lupa flash disk gantung di leher
malah lupa sepatu jadi nyeker

flashdisk isinya bokep atau lagu
kalau ada kerjaanpun gue ragu
kalo emang berani coba pada ngaku
cek isi foldernya satu satu

di kantor online pakai proxy
walau diblok server bisa dilolosi
namanya udah ketagihan internet
produktifitaspun kepepet

jam kerja malah chatting Y!M
ngobrol online sama ehehem
atasan lewat langsung klik data
pura pura kerja di depan mata

siang malam ku selalu
menatap layar terpaku
untuk on line on line
on line on line
jari dan keyboard beradu
pasang earphone dengar lagu
aku on line online
on line on line

bridge:
makan siangpun aku cari sinyal wifi
mengapa ku kecanduan oh why why
kadang terasa bagai tak berdaya
ingin ku berubah..
eh ada e-mail dah dulu ya

Verse 3:
cek e-mail spam semua
email benerannya cuma dua
yang satu email lama
yang satu forwardan yang sama

ngarep komentar buka friendster
loading, gue tinggal beser
pas balik ngecek komputer kok lagi maintenance server

ya udah download lagu
bajakan gratis gak pake ragu
saykoji satu album
setengah jam bisa rampung

sore sore bosen hambar
ide nakal cari-cari gambar
download video dengan sabar
ketahuan pacar digampar

siang malam ku selalu
menatap layar terpaku
untuk on line on line
on line on line
jari dan keyboard beradu
pasang earphone dengar lagu
aku on line online
on line on line



lyric taken from danigunawan.com

Menikmati waktu

Sebenarnya aku tidak tahu kapan waktu terbaik untukku menulis, sama halnya ketika aku ingin membaca sebuah tulisan. Seringnya dulu aku mencoba memaksa diri menulis ketika malam, tapi ternyata hanya menumpuk di dalam draft dan akhirnya terbuang percuma seperti waktu itu. Keinginan menulis sama halnya ketika membaca, ketika ada paksaan di dalamnya, aku sama sekali tak dapat menikmatinya.

Beberapa kali menikmati jari menari di atas keyboard membuatku melayang bersama imaji, menarawang dan membangun duniaku sendiri. Sama halnya ketika membaca tulisan dari teman², aku diajak mereka menikmati dunianya. Mengalir pelan dimanja kata demi kata yang membuatku terlena akan waktu dan panjangnya sebuah tulisan. Aku tak peduli berapa lama harus membaca tulisan² itu. Rasaku puas ketika selesai membacanya dan memberi komentar atas tulisan mereka adalah penghargaan yang layak atas imajinasi yang membekas di dalam memori.

Tapi kadang, ketika aku memaksakan diri, memahami sebuah tulisan ternyata tak begitu mudah. Entah kenapa aku tak menangkap apa yang mereka tulis meski dalam bahasa lugas dengan alur tulisan yang tertata. Seolah aku tak mampu bermain dengan kata² itu, biasanya aku akan meninggalkanya. Atau jika tetap memaksakan diri, comment yang ku tulis hanya tulisan basa-basi seadanya.

Saat ini, entah kenapa aku begitu menikmati tulisan² yang dulu sempat kutinggalkan. Jika boleh meminta lagi, aku akan meminta mereka untuk terus menulis. Karna bagaimanapun, tulisan itu akan di baca sesorang suatu hari nanti. Mungkin hari ini bukan waktu yang tepat untuk membaca sebuah tulisan, jadi mereka belum bisa berkomentar. Tapi suatu hari nanti, siapa tahu, mereka akan membaca tulisan itu lagi. Dan benar² mampu menikmati waktu dengan tulisanmu.

Bermegahan itu ujian

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

أَلْهَٮٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾
ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ ٱلْيَقِينِ ﴿٥﴾
لَتَرَوُنَّ ٱلْجَحِيمَ ﴿٦﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ﴿٧﴾
ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ (٨


Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainulyaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).(QS. 102)



Pagi ini nyimpen kumupulan hadist digital dari sini. Entah, jangan tanya aku kenapa sampe kepikiran nyimpen file chm itu!

Setelah mbuka and mbaca beberapa Hadist di bab 'Kitab Iman' dari Ringkasan Shahih Bukhari, aku kepengen nyari reference dari ayat yang ada di bagian atasnya. Kumpulan surat² Al Qur`an yg juga ada di situ. Tapi entah kenapa sempet salah klik and Surat At Takaatsur itu keluar. Waktu mo nerusin nyari malah ga jadi and spontan baca ayatnya.

Mata udah ga enak waktu ngebatin baca dalem hati suratnya, kek ada getaran di dalem hati and pengen nangis aja. Ada apa? Apakah ini sindiran dari apa yang udah aku lupain pada tahun² terakhirku berada di sini?

God...

Selama di sini, aku dipuja kemudahan hidup yang telah melupakanku padanya. Hidup hanya berkutat dengan masalah dunia tak ada akhir, seolah aku akan terus hidup selamanya. Menikmatinya mengalir begitu saja hingga tak pernah menyentuh batinku.

Dalam tangisku itu aku benar² di tampar, tersadar bahwa semua nikmat ini hanyalah cobaan. Kemegahan semu yang terus aku candu dalam layar memuakkan. Ach, sepertinya manusia bodoh ini hanya bisa mengartikannya sebagai pemberian. Sembari terus bermegah megahan selagi mampu. Tolol...

Luapan Emosi

Pilihanku untuk diam

Setiap hari bertemu orang berbeda dengan berbagai karakter menyertainya, menjalani aktifitas dengan bermacam situasi. Menyadarkanku bagaimana harus bersikap terhadap mereka dalam setiap kesempatan, mereka adalah manusia lain yang juga mempunyai emosi. Emosi hati yang merubahnya menjadi luapan kemarahan menyebalkan. Ya, satu kata marah!

Menjadi bagian kemarahan dengan banyak kata umpatan keluar bukan menjadi ciriku meluapkan emosi. Aku lebih suka diam, karna menjadi marah dan menyakiti orang lain dengan kata² memuakkan itu sungguh tak mengenakkan. Karna aku tahu melihat orang lain marah dengan suara keras itu sungguh sangat menyebalkan, maka aku memilih diam.

Ada teman yang bilang rasi bintang aquarius mendasari sifatku seperti itu, sterotipe bodoh yg meletakkan bintang sebagai alasan pembenaran. Aku tak setuju dengannya, karna karakter ini terbentuk dari keluarga yang malas untuk kuceritakan. Biarlah aku menjadi seperti ini saja, tidak menjadi bagian dari mereka yang suka mengumbar kata.

Ketika diam memberi ruang untuk berfikir jernih bagiku akan lebih baik karna mampu menilai kebenaran. Menjadi legowo kalau emang aku salah dan meminta maaf, atau membiarkan orang yang tak sepaham itu mengoceh semaunya sendiri karna memang tak sependapat denganku. Membiarkannya berlalu, itu saja.

Seperti saat ini ketika kemarahan itu meluap dan menjadikan tulisanku mengalir begitu saja. Akan ada energi baik yang bisa kugunakan daripada memaksakan pendapatku diterima oleh orang lain.

Suck!