Neraka adalah orang lain

Aku pernah membaca naskah drama waktu ngumpul² di Teater Kusuma untag surabaya, dengan judul "Neraka Adalah Orang Lain" yang tercetak dengan huruf kapital pada covernya meski aku juga ngawur aja ngasih judulnya karna dah lupa sama naskah itu.

Menarikku pada alur ringan yang mengisahkan kejadian seseorang setelah mati. Dimana ia dikurung dalam ruangan bersama beberapa tiga atau empat orang dengan perbedaan character yang sangat berlainan. Dimana ia mencoba dan terus mencoba bersosialisasi dengan mereka, tapi semakin ia mencoba pun semakin lama ia tersiksa karna kepribadian mereka memang sangat berbeda jauh, dalam segi apapun. Hingga ia berusaha dan memohon untuk cepat mati saja. Tapi karna dia sudah mati, maka ia tak akan bisa mati lagi. Karna ruangan itu adalah neraka, karna orang² lain itu adalah siksa untuknya.

"Neraka adalah orang lain." Simple, ya... ??
Membuatku selalu pengen baca naskah itu lagi...,,

Dari naskah itu aku selalu mencoba untuk tidak menjadi neraka bagi orang lain. Beberapa cara yang seringnya kulakukan untuk membebaskan mereka dari neraka adalah dengan belajar mengendalikan diri, mengontrol emosi dengan menguburnya di bagian terdalam jiwaku, atau memilih untuk diam dalam artian ucapan dan tindakan. Meski aku tahu akan ada resiko yang harus kuterima dari sikap itu.... ,

karena mereka tak pernah merasa menjadi neraka untukku.

so sorry...

Ketika pagi membuka cahaya jiwa dari pekat malam, pun masih tersisa redup hati yang terus menyesali diri. Perihal janji yang telah ku ucap beberapa minggu lalu ternyata tak mampu kupenuhi hingga kemaren sore ia datang meminta pekerjaan setengah jadi itu. Rasa sesal itu masih ada, meski ia beribu kali mengucap tak harus menyelesaikannya. Hanya saja....,,

Ah, keadaan semakin sulit ketika malam ini ku tahu pekerjaan setengah jadi itu ternyata menambah masalah untuknya. Karna apa yang ku berikan padanya dalam batangan memory kapasitas 2 gigabyte ternyata tak menyimapn hasil pekerjaanku. Sedangkan tenggat waktu yang ia punya hanya menyisakan menit yang terus berjalan.

Hingga detik terakhir aku masih menyesali ini, meski telah ku ucap maaf kepadanya. Hanya saja...,,,

Ketika mulut mengucap kesanggupan untuk segera menyelesaikan sebuah amanah, maka tak seharusnya kujadikan sepele dengan mengulur waktu hingga menjadikannya masalah bagi orang lain.

Ah, semoga pagi nanti masih menyisakan waktu untuk memperbaiki kesalahanku.

Semoga...,,

a way back home

Dalam berjuta harap, aku ingin memberikan ratusan kalimat rindu untuk keluargaku. Atau paling tidak, cukup kepada Ibuk yang ku yakin juga tengah merindukanku. Sepertiku yang kini masih mencari jalan pulang pada keluargaku.

sin fallen

Mulai kubersihkan meja kerja dari tumpukan kertas yang belum selesai ku garap. Lelah menunggu tulisan shutdown itu hilang, kututup laptop hitamku dan memasukkannya kedalam tas dengan warna serupa. Segera kutinggalkan ruang kerjaku tanpa menoleh dan mengingat semua yang ada di dalamnya.

Langkah lelahku masih berjalan mantap ketika satu²nya sinar temaram dari neonbox bertulisakan 'EXIT' itu tertangkap oleh kornea. Kuangkat tangan kiriku setinggi dada, memastikan kalau waktu lemburku tak melebihi batas normal seperti kemarin. Ketika harus kubangunkan satpam untuk membuka pintu karna pulang lebih dari jam dua belas malam. Pun meski hari ini aku pulang jam sebelas, ternyata satpam itu juga sudah tidur di balik mejanya.

Angin malam segera menyapa ketika kulangkahkan kaki keluar pintu, memaksa bulu kuduk berdiri. "Tak biasanya surabaya malam sedingin ini," gumamku, seketika itu pula ada nada yang berlagu bersama angin yang meniup daun telingaku. Lagu tentang cerita kerinduan.

Mengingatkanku pada tanah kelahiran yang sudah lima tahun lebih kutinggalkan. Lima tahun yang lalu, pada jam seperti sekarang ini biasanya sering kugunakan untuk melingkar di dalam selimut kesayangan. Selimut putih kumal yang dijahit sendiri oleh tangan ibuku, tangan yang selama dupuluh empat tahun lebih merawatku. Tangan lembut yang sudah lima tahun ini tak lagi kurasakan dikarenakan egoku, pertengkaran besar karena kenakalanku waktu itu.

Anak muda pengangguran salah pergaulan, begitu mendahulukan pertemenan semu yang membuatku lepas emosi, hingga pagi itu ibu menemukan sebungkus ganja di saku celana yang hendak di cucinya. Pertengkaran hebat di dalam rumah yang membuatku jengah, hingga malamnya aku nekat kabur merantau. Bersama teman mengadu nasib ke Surabaya, meninggalkan kasih yang begitu menyejukkan hatiku, yang tak dapat tergantikan oleh siapapun.

Tapi, munkin. Kasih itu telah tergantikan oleh seorang wanita yang -tentu saja tidak semuanya- dapat menyejukkan hatiku ketika jiwa terasa dahaga. Ya, wanita itu adalah setengah hatiku yang lainnya. Jika tak ada hadirnya ataupun hanya suaranya, jiwaku seolah tak terasa. Seolah suaranya menyadarkanku dari lamunan, membuatku semakin ingin bertemu dengannya.

Maka segera ku melankah menuju Jazz hitam yang masih setia menunggu di depan kantor meski tak ada mobil lain yang menemaninya. Pelan kubuka pintu depan sebelah kanan, ku taruh tas hitamku di jok belakang sebelum melempar Motorola L6 di jok samping. Niatan untuk menyalakan mobil urung kulakukan ketika rindu pada kampung halaman serasa mencambuk hatiku.

Terlintas ide cemerlang, yang membuatku reflek meraih handphone yang baru saja kulempar tadi. Kutekan sebelas kombinasi angka yang telah kuhafal diluar kepala.

"Hey, hun..." suaranya kegirangan. "Masih lembur?" ucapnya merdu.
"Sayang, kamu di mana?"
"Masih di rumah.. Kenapa?"
"Emang ngga jadi pulang ke Nganjuk?"
"Ngga jadi...," jawabnya cepat.
"Kenapa?"
"Males aja, lagi pengen keluar sama kamu..."

Serasa ada lem yang merekatkan kedua bibirku, aku masih ragu ingin melanjutkan pembicaraan ini.

"Hallo..? Sayang...??" suaranya menyadarkanku.
"Ya...?"
"Are you alright..??"
"I'm fine. Listen, I want to talk something..."
"Ada apa sich? Kok nadanya serius gitu...???"
"Kamu mo ikut aku pulang ke Boyolali..??"

sin fallen

Jam tiga dini hari, diantara sepi resto daerah Sragen kunikmati angin malam, wangi khas pedesaan. Sawah yang mengelilingi resto ini membuatku semakin merindu rumahku. Rumah kecil yang juga terletak di pinggir desa, meski tak ada suara gemericik sungai, tapi suara jankrik di tiap malamnya seolah menyayikan lagu kedaimaian. Damai yang tak munkin ku temui diantara riuh kota. Tapi diantara senyum wanitaku, aku menemukan kedamaian itu.

"Ada yang lucu?" ucapku setelah menaruh cankir kopi warna hijau muda di atas tatakannya.
"Ngga ada...," senyum itu segera disembunyikannya dengan meminum es jeruk dalam gelas bening itu.
"Aneh...,," kubakar ujung Dji Sam Soe yang baru saja keluar dari saku celana depanku.
"Kamu ntu yg aneh..." ada raut kesal terukir di wajahnya.
"Kok bisa?"
"Karna sampai detik ini, kamu belum bilang alasanmu kenapa pengen pulang. Ngga ada rencana, ngga ngomong aku sebelumnya, ngga..."
"Aku cuman kangen mereka, itu aja..." jawabku pendek.
"Cuman itu aja? Sedangkan kemaren kamu bilang kalo ada meeting penting pagi ini, belum lagi presentasimu dengan..."
"Kamu ngga ada event, khan?" tanyaku khawatir.

Sebagai penyiar radio terkenal di Surabaya, sekaligus job nge-MC yang padat membuatku sulit mengingat jadwal kesehariannya.

"Bukan itu masalahnya..." ucapnya dengan mulut masih berisi makanan. Lalu disilangkannya sendok dan garpu diatas meja sembari menghabiskan makanan dalam mulutnya, "Kemaren kamu sendiri yg cerita kalo presentasi siang nanti ntu penting banget buat kariermu. Kalo masalahnya cuman kangen khan bisa kita jadwal minggu depan."
"Hunny, It's not a big problem. Semalem aku dah telfon Mita, aku minta sama dia buat ngerubah jadwal pertemuan itu.."
"Terserah kamulah...,," ucapnya ketus.
"Anyway..." kugenggam tangan kanannya dengan kedua tanganku. "Is it okey if I want to introduce you to my mom?" wanitaku malah mengerutkan dahinya sesaat...
"Will you marry me?" ucapnya dengan senyum menggoda.
"Haey, thats my word!"

sin fallen

Sinar mentari membantu penglihatanku pagi ini, cukup jelas untuk membaca tulisan "MTsN Andong" tempat belajarku dulu semasa es em pe pada bangunan tua yang baru saja kulewati. Perempatan di depan berarti tikungan terakhir perjalananku. Seketika jantungku berdebar, bukan karena aku takut bertemu bapak dengan kemarahannya yang masih ku ingat saat terakhir kali sebelum aku kabur dari rumah, tapi perasaan aneh menjalar disekujur tubuhku. Ditambah lagi ketika ku temukan bendera merah berkibar di tikungan terakhir yang kumaksud tadi. Bendera yang melambangkan kematian.

Segera kumatikan sound yang menghentak oleh Hitam-nya Padi, memberi sedikit ruang untuk memperjelas pendengaranku. Ada alunan qiro` yang mengusap gendang telinga secara perlahan.

"Whats wrong, honey?"
"Im not sure, sepertinya ada yg meninggal..." jawabku pelan.

Sepertinya mataku sedang bermasalah, atau aku yang tak yakin dengan apa yang kulihat. Seolah tak percaya pada kornea yang melihat beberapa orang berbaju hitam masuk ke pekarangan rumah, rumahku.

"Semoga mataku sedang bermasalah dengan warna.." pintaku pada tuhan.

Karna perasaan tak nyaman ini masih saja menggerayangiku, membuat tangan dan kakiku bergetar, membuat laju mobil semakin terasa lambat. Maka kupilih untuk menghentikan mobil lima meter dari rumah, segera keluar dan berlari meninggalkan wanitaku yang setengah jalan mengikutiku dari belakang. Ku cari seseorang yang ku kenal sebelum melangkah ke dalam rumah, bertanya tentang semua yang sedang terjadi.

"Ada apa ini?" tanyaku pada seseorang teman lama.
"Kuatkan hatimu, Ibumu baru saja...."

Lalu hanya gelap yang dapat kulihat.

sin fallen

Dalam berjuta harap, aku ingin memberikan ratusan kalimat rindu untuk keluargaku. Atau paling tidak, cukup kepada Ibuk yang ku yakin juga tengah merindukanku. Sepertiku yang kini masih mencari jalan pulang pada keluargaku.

Maka segera kuraih Motorola L6 yang tergeletak diatas ranjang, meninggalkan computer dengan WordPad berisi cerita pendek untuk blog yang belum selesai kutulis. Mencari 'ibuk' dalam list phonebook yang tertera di layar, aku ingin mendengar suara Ibuk meski sebentar saja. Sekedar mengobati rasa rindu sembari menemukan jalan untuk pulang.


-end



Soerabaya, pertengahan mei 2009.
Cerita usang yang kuketik ulang dari buku tulisku,
cerita untuk menemukan jalan pulang pada keluarga.




the way back home, image by jockaz.deviantart.com

berbagi....

jika aku ingin membagi sesuatu,
apapun itu...
bukan telinga dan mata
yang ku pinta...
atau segenggam erat tangan
pada layu jemariku...
bukan itu, jika kau sadari apa yang kumau....

teras nirwana
atau telaga warna..
pun kau tak perlu membawaku kesana..
hanya tempat ini
bumi
tempat sederhana...
seperti biasa

ketika hanya ada kau dan aku...
kita...
itu saja.......

soerabaya, awal mei 2009..
ketika ingin mengumpulkan kata berserakan


diambil dari note facebook...
mengisi kekosongan sembari menunggu tulisan selanjutnya...

TransNet Nginden berubah wajah?

Baru selang beberapa hari setelah 'TransNet-ku' selesai ditulis, mas titong benar² melakukan perombakan besar²an terhadap Sandi Graha. Berikut beberapa product yg berada di dalamnya. TransNet, Bizantium Creative Crew, Baloeng Art, GudangEvent, Lais Photocopy, apa lagi??

Okelah, pemikiran orang siapa yang tahu. Termasuk isi kepala mas Titong yg bisa berubah begitu cepatnya. Meski malam harinya dia bilang kalo TransNet mo di pindah ke bawah di lante satu, tapi apa yg terjadi pada pagi harinya bisa berbeda lagi. Pagi itu, sewaktu dia bilang ke bawor, owos, beton dan yang lain, kalo TransNet mo di tutup untuk selamanya. Ya, waktu itu ia bilang kalo TransNet ga bakalan buka lagi.

Untuk mengisi kekosongan ruang, TransNet Nginden akan di alihkan fungsi menjadi galeri seni. Hasil pemikiran mas Titong dengan pelukis aneh-aneh Taufik Monyong dengan dukungan dari beberapa pelukis jebolan Unipa Surabaya. Dan kemungkinan itu masih terus di perjuangkan oleh mereka. "Hingga saat ini penggarapannya telah mencapai 50%", ucap Monyong di sela-sela obrolan kami.

Tapi kemudian, berita baru aku dengar dari empunya TransNet nginden kalo TransNet ngga di tutup selamanya. "Hanya sementara, aku butuh cooling down dulu biar ada suasana baru di tempat ini." kata mas titong waktu ngobrol di kamarku. Soalnya masih banyak unit compi yang mankrak di lantai dua, eman juga kalo ga di pake sedangkan VoxNet udah ga ada tempat buat nambah unit.

Mengenai kemungkinan akan dibukanya TransNet hanyalah menunggu waktu. Seperti yang udah dibilang mas Titong, kalo "TransNet bakalan di buka lagi, hanya nunggu Lais Fotocopy menyelesaikan sisa kontraknya." Sedangkan masa kontrak Lais baru berakhir September tahun ini. Berarti ruang paling depan di lantai satu itu nantinya bakalan di buat warnet lagi.

Apapun, semoga Sandi Graha ga bakalan sepi lagi seperti beberapa minggu terakhir ini.

Lek Komed

Antara namanya dengan namaku.

Beberapa malem, tepatnya jam 10 malam hari Kamis tanggal 7 May 2009, ibuk ngirim sms pendek yang cukup membuatku tercengang. Datang sebuah catatan kelabu untuk keluargaku. Lebih tepatnya untukku sendiri, lek Komed, Paklik dari Bapak meninggal dunia dikarenakan darah tinggi yang di deritanya. Sebuah alasan yang tak dapat kupercaya, karna sepengetahuanku lek Komed ngga pernah punya catatan kesehatan tentang penyakit itu.

Catatan yang ku punya, yang masih dan akan terus ku ingat, tentangnya adalah nama belakang yang diberikannya untukku. Waktu itu, setelah Kakek mendapat huruf baik untukku adalah ro` [ ... ] dan nama yang kuterima adalah Muhammad Rosid, lek Komed mengusulkan agar di tambahi Ridho di belakangnya. Nama yang baru akhir² ini ku tahu adalah milik seorang sastrawan Persia, alasan yang kuyakini karna lek Komed adalah alumni Sastra Arab di salah satu perguruan tinggi negeri Jogjakarta. Nama yang bagus bukan??

Hahh,, apapun itu... Seikat do'a telah kulayangkan kepada tuhan dengan harapan semoga lek Komed dapat di terima dengan layak di sisinya. Seperti ikhlas yang telah kuberikan pada nya meski tak mampu menghadiri pemakamannya. Hal yang sangat amat kusesalkan, mengingat kenangan ketika kecil dulu aku sering bermanja dengannya. Tubuh tambun itu, suara beratnya, juga jambang yang tak mungkin ku lupa. Keberanian yang sering bapak ceritakan, tauladan yang mungkin tak dapat kutemukan lagi. Perjalanan juga nama pemberiannya. Wujud do`a yang ia berikan padaku pada nama itu, yang akan terus membekas dalam alur perjalanan hidupku.

"terima kasih, lek"